{"id":4471,"date":"2024-01-31T17:20:46","date_gmt":"2024-01-31T17:20:46","guid":{"rendered":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471"},"modified":"2024-01-31T17:21:34","modified_gmt":"2024-01-31T17:21:34","slug":"mengulik-tentang-sindrom-peter-pan-pada-orang-dewasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471","title":{"rendered":"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa"},"content":{"rendered":"<div class=\"flex-1 overflow-hidden\">\n<div class=\"react-scroll-to-bottom--css-zlzxa-79elbk h-full\">\n<div class=\"react-scroll-to-bottom--css-zlzxa-1n7m0yu\">\n<div class=\"flex flex-col pb-9 text-sm\">\n<div class=\"w-full text-token-text-primary\" data-testid=\"conversation-turn-3\">\n<div class=\"px-4 py-2 justify-center text-base md:gap-6 m-auto\">\n<div class=\"flex flex-1 text-base mx-auto gap-3 md:px-5 lg:px-1 xl:px-5 md:max-w-3xl lg:max-w-[40rem] xl:max-w-[48rem] group final-completion\">\n<div class=\"relative flex w-full flex-col lg:w-[calc(100%-115px)] agent-turn\">\n<div class=\"flex-col gap-1 md:gap-3\">\n<div class=\"flex flex-grow flex-col max-w-full\">\n<div class=\"min-h-[20px] text-message flex flex-col items-start gap-3 whitespace-pre-wrap break-words [.text-message+&amp;]:mt-5 overflow-x-auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"3285cd8f-6926-4fc1-91ca-f856f2cd8d2b\">\n<div class=\"markdown prose w-full break-words dark:prose-invert dark\">\n<p>Sindrom Peter Pan bukanlah penyakit jiwa seperti depresi atau gangguan obsesif kompulsif. Pria dengan sindrom ini menunjukkan perilaku kekanak-kanakan, seolah-olah mereka belum pernah tumbuh dewasa. Meskipun beberapa wanita juga dapat memiliki ciri-ciri serupa, sindrom Peter Pan umumnya lebih sering ditemukan pada pria dewasa.<\/p>\n<h3>Apa yang Menandakan Seseorang Memiliki Sindrom Peter Pan?<\/h3>\n<p>Berbeda dengan sifat kekanakan pada umumya, penderita sindrom Peter Pan cenderung memiliki beberapa perilaku berikut ini dalam dunia kerja atau sosial:<\/p>\n<h4><strong>1. Perilaku Kekanak-kanakan<\/strong><\/h4>\n<p>Mereka cenderung berperilaku seperti anak kecil, remaja, atau bahkan lebih muda dari usia sebenarnya. Sering kali, mereka berteman dengan orang yang lebih muda.<\/p>\n<h4><strong>2. Bergantung pada Orang Lain<\/strong><\/h4>\n<p>Penderita sindrom ini sering bergantung pada orang lain, selalu berharap dilindungi dan meminta bantuan untuk hal-hal sehari-hari.<\/p>\n<h4><strong>3. Kesulitan dalam Hubungan<\/strong><\/h4>\n<p>Sulit mempertahankan hubungan jangka panjang, terutama dalam percintaan. Kecenderungan kekanak-kanakan mereka membuat pasangan tidak nyaman.<\/p>\n<h4><strong>4. Takut Berkomitmen<\/strong><\/h4>\n<p>Merasa takut untuk berkomitmen baik dalam hubungan percintaan maupun pekerjaan. Penderita sindrom peter pan tidak bisa mempertahankan hubungan jangka panjang yang stabil, terutama percintaan. Sifatnya yang kekanakan kadang membuat pasangan menjadi tidak nyaman.<\/p>\n<h4><strong>5. Kurang Bertanggung Jawab<\/strong><\/h4>\n<p>Orang dengan sindrom ini sering kali menghindari atau menolak untuk bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan mereka, sering kali lebih mengutamakan kepuasan pribadi.<\/p>\n<h4><strong>6. Kesulitan Mengakui Kesalahan<\/strong><\/h4>\n<p>Sulit untuk mengakui kesalahan dan cenderung menyalahkan orang lain sehingga sulit untuk introspeksi diri.<\/p>\n<h3>Penyebab Sindrom Peter Pan<\/h3>\n<p>Meskipun tidak ada penyebab tunggal, pola asuh overprotektif oleh orang tua seringkali diidentifikasi sebagai pemicu sindrom ini. Anak-anak yang dilindungi secara berlebihan cenderung tidak berkembang dengan baik dalam menghadapi tantangan kehidupan.<\/p>\n<p>Pola asuh yang terlalu protektif dapat membuat anak dewasa dengan rasa takut untuk mengambil tanggung jawab dan berkomitmen. Tekanan ini membuat mereka ingin melarikan diri dari beban hidup dan kembali ke masa kanak-kanak yang bebas.<\/p>\n<p>Sindrom Peter Pan mungkin tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan, tetapi memahami tanda-tandanya dan penyebabnya dapat membantu individu untuk mengatasi dan tumbuh dewasa dengan lebih sehat.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"w-full pt-2 md:pt-0 dark:border-white\/20 md:border-transparent md:dark:border-transparent md:w-[calc(100%-.5rem)]\">\n<form class=\"stretch mx-2 flex flex-row gap-3 last:mb-2 md:mx-4 md:last:mb-6 lg:mx-auto lg:max-w-2xl xl:max-w-3xl\">\n<div class=\"relative flex h-full flex-1 items-stretch md:flex-col\">\n<div class=\"flex w-full items-center\"><\/div>\n<\/div>\n<\/form>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sindrom Peter Pan bukanlah penyakit jiwa seperti depresi atau gangguan obsesif kompulsif. Pria dengan sindrom ini menunjukkan perilaku kekanak-kanakan, seolah-olah mereka belum pernah tumbuh dewasa. Meskipun beberapa wanita juga dapat memiliki ciri-ciri serupa, sindrom Peter Pan umumnya lebih sering ditemukan pada pria dewasa. Apa yang Menandakan Seseorang Memiliki Sindrom Peter Pan? Berbeda dengan sifat kekanakan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4470,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4471","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-life"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa - TemanMama<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sindrom Peter Pan mungkin tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan, tetapi memahami tanda-tandanya dan penyebabnya dapat membantu individu untuk mengatasi dan tumbuh dewasa dengan lebih sehat.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa - TemanMama\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sindrom Peter Pan mungkin tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan, tetapi memahami tanda-tandanya dan penyebabnya dapat membantu individu untuk mengatasi dan tumbuh dewasa dengan lebih sehat.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"TemanMama\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-01-31T17:20:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-01-31T17:21:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"768\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"N0tty\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"N0tty\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471\"},\"author\":{\"name\":\"N0tty\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c\"},\"headline\":\"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa\",\"datePublished\":\"2024-01-31T17:20:46+00:00\",\"dateModified\":\"2024-01-31T17:21:34+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471\"},\"wordCount\":318,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg\",\"articleSection\":[\"Life\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471\",\"name\":\"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa - TemanMama\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg\",\"datePublished\":\"2024-01-31T17:20:46+00:00\",\"dateModified\":\"2024-01-31T17:21:34+00:00\",\"description\":\"Sindrom Peter Pan mungkin tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan, tetapi memahami tanda-tandanya dan penyebabnya dapat membantu individu untuk mengatasi dan tumbuh dewasa dengan lebih sehat.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg\",\"width\":1024,\"height\":768},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/temanmama.org\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#website\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/\",\"name\":\"TemanMama\",\"description\":\"TemanMama menyajikan informasi parenting, Ibu dan Anak, kehamilan seputar hubungan keluarga serta tips bermanfaat lainnya untuk Mama.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\"},\"alternateName\":\"Teman Mama & Info Seputar Parenting\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/temanmama.org\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\",\"name\":\"TemanMama\",\"alternateName\":\"Teman Mama Parenting Keluarga\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png\",\"contentUrl\":\"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png\",\"width\":536,\"height\":239,\"caption\":\"TemanMama\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c\",\"name\":\"N0tty\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"N0tty\"},\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa - TemanMama","description":"Sindrom Peter Pan mungkin tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan, tetapi memahami tanda-tandanya dan penyebabnya dapat membantu individu untuk mengatasi dan tumbuh dewasa dengan lebih sehat.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa - TemanMama","og_description":"Sindrom Peter Pan mungkin tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan, tetapi memahami tanda-tandanya dan penyebabnya dapat membantu individu untuk mengatasi dan tumbuh dewasa dengan lebih sehat.","og_url":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471","og_site_name":"TemanMama","article_published_time":"2024-01-31T17:20:46+00:00","article_modified_time":"2024-01-31T17:21:34+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":768,"url":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"N0tty","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"N0tty","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471"},"author":{"name":"N0tty","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c"},"headline":"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa","datePublished":"2024-01-31T17:20:46+00:00","dateModified":"2024-01-31T17:21:34+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471"},"wordCount":318,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg","articleSection":["Life"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471","url":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471","name":"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa - TemanMama","isPartOf":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg","datePublished":"2024-01-31T17:20:46+00:00","dateModified":"2024-01-31T17:21:34+00:00","description":"Sindrom Peter Pan mungkin tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan, tetapi memahami tanda-tandanya dan penyebabnya dapat membantu individu untuk mengatasi dan tumbuh dewasa dengan lebih sehat.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/temanmama.org\/?p=4471"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#primaryimage","url":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg","contentUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/1631757046526-sindrom-peter-pan.jpg","width":1024,"height":768},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4471#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/temanmama.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengulik Tentang Sindrom Peter Pan pada Orang Dewasa"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#website","url":"https:\/\/temanmama.org\/","name":"TemanMama","description":"TemanMama menyajikan informasi parenting, Ibu dan Anak, kehamilan seputar hubungan keluarga serta tips bermanfaat lainnya untuk Mama.","publisher":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization"},"alternateName":"Teman Mama & Info Seputar Parenting","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/temanmama.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization","name":"TemanMama","alternateName":"Teman Mama Parenting Keluarga","url":"https:\/\/temanmama.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png","contentUrl":"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png","width":536,"height":239,"caption":"TemanMama"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c","name":"N0tty","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g","caption":"N0tty"},"url":"https:\/\/temanmama.org\/?author=3"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4471","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4471"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4471\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4472,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4471\/revisions\/4472"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4470"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4471"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4471"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4471"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}