{"id":4160,"date":"2024-01-26T16:39:34","date_gmt":"2024-01-26T16:39:34","guid":{"rendered":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160"},"modified":"2024-01-26T16:39:34","modified_gmt":"2024-01-26T16:39:34","slug":"sindrom-rett-pada-anak-kenali-penyebab-dan-gejalanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160","title":{"rendered":"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sindrom Rett merupakan suatu gangguan perkembangan otak yang langka. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi oleh Dr. Andreas Rett pada tahun 1966. Biasanya, kelainan ini lebih sering dialami oleh anak perempuan, dan gejalanya akan mulai terlihat saat anak mencapai usia\u00a0 1 &#8211; 1,5 tahun. Bayi yang mengalami kelainan ini awalnya bisa berkembang secara normal. Namun, secara bertahap perkembangannya akan semakin terhambat.<\/span><\/p>\n<h3><strong>Penyebab Sindrom Rett<\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sindrom Rett diakibatkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak, yakni MECP2. Tetapi, penyebab dari perubahan gen tersebut hingga kini belum diketahui. Sindrom Rett bukanlah kelainan yang diwariskan atau diturunkan oleh orang tua. Meski demikian, anak dari keluarga mempunyai riwayat kelainan ini diduga lebih berisiko mengalami kondisi yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sindrom Rett lebih kerap terjadi pada anak perempuan daripada anak laki-laki. Namun, jika sindrom Rett terjadi pada anak laki-laki, gejala yang dialami dapat lebih parah, bahkan pada beberapa kasus anak sudah meninggal sejak dalam kandungan.<\/span><\/p>\n<h3><strong>Gejala Sindrom Rett<\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar bayi yang menderita sindrom Rett akan tumbuh normal hingga mencapai usia 6 bulan. Namun setelah itu, gejala mulai muncul pada anak. Walaupun, perubahan yang signifikan cenderung baru muncul saat anak berusia 1 &#8211; 1,5 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gejala sindrom Rett umumnya terbagi menjadi 4 tahap, di mulai dari:<\/span><\/p>\n<h4><strong>Tahap 1 (<i>Stagnation<\/i>)<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap 1 ditandai dengan gejala kesulitan bergerak, muncul gerakan tungkai yang berulang dan tidak normal, kesulitan ketika makan, dan kurang tertarik untuk bermain. Gejala tahap 1 ini mulai terlihat ketika si kecil berusia 6 &#8211; 18 bulan.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Tahap 2 (<i>Regression<\/i>)<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap 2 mulai muncul saat anak berusia 1 &#8211; 4 tahun. Pada tahap ini, kemampuan anak bisa menurun secara perlahan-lahan atau pesat. Gejalanya meliputi:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berteriak dan rewel tanpa alasan yang jelas.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gerakan tangan yang tidak terkendali, seperti menepuk atau meremas.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tubuh tidak seimbang ketika berjalan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menghindari kontak mata dengan orang lain.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lingkar kepala anak lebih kecil dari rata-rata ukuran normal.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gangguan tidur.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Susah mengunyah dan menelan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h4><strong>Tahap 3 (<i>Plateau<\/i>)<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap 3 dimulai ketika anak berusia 2 &#8211; 10 tahun, dan ditandai dengan membaiknya gejala yang dirasakan di tahap 2. Misalnya, cara berjalan dan berkomunikasi anak mulai membaik, serta anak menjadi tidak rewel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, terdapat beberapa gejala baru yang muncul pada fase ini, seperti:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kejang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kebiasaan menggeretakkan gigi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pola napas anak tidak teratur, seperti menahan napas atau bernapas pendek kemudian menarik napas panjang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gangguan irama jantung pada sebagian pengidap.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h4><strong>Tahap 4 (<i>Deterioration in Movement<\/i>)<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap ini ditandai dengan skoliosis atau kelainan bentuk tulang belakang, anak tidak mampu berjalan, serta otot-ototnya menjadi lemah atau kaku. Tetapi, kemampuan si kecil dalam berkomunikasi serta memahami orang lain bisa membaik. Bahkan, kejang dan gerakan tangan yang berulang mulai mereda. Gejala pada tahap ini berlangsung hingga anak dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peran keluarga, dukungan medis, dan pemahaman masyarakat dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas hidup anak-anak dengan sindrom Rett. Semoga, artikel ini bisa menambah referensi TemanMama, ya!<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sindrom Rett merupakan suatu gangguan perkembangan otak yang langka. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi oleh Dr. Andreas Rett pada tahun 1966. Biasanya, kelainan ini lebih sering dialami oleh anak perempuan, dan gejalanya akan mulai terlihat saat anak mencapai usia\u00a0 1 &#8211; 1,5 tahun. Bayi yang mengalami kelainan ini awalnya bisa berkembang secara normal. Namun, secara &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4159,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-4160","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesehatan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya - TemanMama<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sindrom Rett diakibatkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak, yakni MECP2. Ketahui gejalanya pada anak di sini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya - TemanMama\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sindrom Rett diakibatkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak, yakni MECP2. Ketahui gejalanya pada anak di sini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"TemanMama\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-01-26T16:39:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"511\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"N0tty\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"N0tty\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160\"},\"author\":{\"name\":\"N0tty\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c\"},\"headline\":\"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya\",\"datePublished\":\"2024-01-26T16:39:34+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160\"},\"wordCount\":450,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg\",\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160\",\"name\":\"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya - TemanMama\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg\",\"datePublished\":\"2024-01-26T16:39:34+00:00\",\"description\":\"Sindrom Rett diakibatkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak, yakni MECP2. Ketahui gejalanya pada anak di sini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg\",\"width\":720,\"height\":511},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/temanmama.org\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#website\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/\",\"name\":\"TemanMama\",\"description\":\"TemanMama menyajikan informasi parenting, Ibu dan Anak, kehamilan seputar hubungan keluarga serta tips bermanfaat lainnya untuk Mama.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\"},\"alternateName\":\"Teman Mama & Info Seputar Parenting\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/temanmama.org\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\",\"name\":\"TemanMama\",\"alternateName\":\"Teman Mama Parenting Keluarga\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png\",\"contentUrl\":\"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png\",\"width\":536,\"height\":239,\"caption\":\"TemanMama\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c\",\"name\":\"N0tty\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"N0tty\"},\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya - TemanMama","description":"Sindrom Rett diakibatkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak, yakni MECP2. Ketahui gejalanya pada anak di sini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya - TemanMama","og_description":"Sindrom Rett diakibatkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak, yakni MECP2. Ketahui gejalanya pada anak di sini!","og_url":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160","og_site_name":"TemanMama","article_published_time":"2024-01-26T16:39:34+00:00","og_image":[{"width":720,"height":511,"url":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"N0tty","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"N0tty","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160"},"author":{"name":"N0tty","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c"},"headline":"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya","datePublished":"2024-01-26T16:39:34+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160"},"wordCount":450,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg","articleSection":["Kesehatan"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160","url":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160","name":"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya - TemanMama","isPartOf":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg","datePublished":"2024-01-26T16:39:34+00:00","description":"Sindrom Rett diakibatkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak, yakni MECP2. Ketahui gejalanya pada anak di sini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/temanmama.org\/?p=4160"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#primaryimage","url":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg","contentUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-26-at-08.46.56.jpeg","width":720,"height":511},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=4160#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/temanmama.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sindrom Rett pada Anak: Kenali Penyebab dan Gejalanya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#website","url":"https:\/\/temanmama.org\/","name":"TemanMama","description":"TemanMama menyajikan informasi parenting, Ibu dan Anak, kehamilan seputar hubungan keluarga serta tips bermanfaat lainnya untuk Mama.","publisher":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization"},"alternateName":"Teman Mama & Info Seputar Parenting","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/temanmama.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization","name":"TemanMama","alternateName":"Teman Mama Parenting Keluarga","url":"https:\/\/temanmama.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png","contentUrl":"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png","width":536,"height":239,"caption":"TemanMama"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c","name":"N0tty","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g","caption":"N0tty"},"url":"https:\/\/temanmama.org\/?author=3"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4160","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4160"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4160\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4161,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4160\/revisions\/4161"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4160"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4160"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4160"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}