{"id":3325,"date":"2024-01-11T18:12:57","date_gmt":"2024-01-11T18:12:57","guid":{"rendered":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325"},"modified":"2024-01-11T18:12:57","modified_gmt":"2024-01-11T18:12:57","slug":"sindrom-werner-pengertian-gejala-dan-penyebabnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325","title":{"rendered":"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring bertambahnya usia, organ dan bagian-bagian tubuh pun akan ikut mengalami penuaan. Faktor dari lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat ternyata juga bisa mempercepat penuaan. Namun, terdapat kondisi medis atau kelainan genetik yang gejalanya hampir sama seperti penuaan dini. Dalam dunia medis, kondisi ini biasa dikenal dengan sebutan sindrom werner. Lantas, sindrom apakah ini?<\/span><\/p>\n<h3><strong>Mengenal Sindrom Werner<\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penuaan memang proses alami yang terjadi pada tubuh setiap orang. Namun nyatanya, tidak hanya karena paparan radikal bebas atau usia, penuaan dini juga dapat terjadi akibat penyakit langka, ialah sindrom werner.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sindrom werner merupakan kelainan yang membuat seseorang mengalami proses penuaan dengan cepat. Akibatnya, seseorang yang mengidap kelainan ini penampilan fisiknya akan lebih tua, hal ini ditandai dengan munculnya uban di rambut, kerutan di wajah, hingga mengalami rambut rontok. Selain itu, fungsi organ tubuh pengidap kelainan ini juga akan menurun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sindrom werner termasuk jenis sindrom progeria yang cukup umum. Dan umumnya, sindrom werner gejala atau tanda-tandanya baru akan muncul setelah penderitanya memasuki masa pubertas atau masa remaja.<\/span><\/p>\n<h3><strong>Gejala Sindrom Werner<\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, anak-anak dengan kelainan sindrom werner bisa tumbuh seperti anak-anak normal lainnya. Tetapi, setelah melewati masa pubertas, anak dengan sindrom ini akan mengalami perubahan fisik yang sangat cepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut ini merupakan beberapa gejala sindrom werner yang biasa terjadi, mulai dari:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kepala membesar.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Suara serak atau bernada tinggi dan rambut mulai beruban.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Wajah mulai muncul kerutan, bibir tipis, rahang bawah mengecil, dan hidung menjadi runcing menyerupai paruh barung.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian kaki dan lengan menjadi kurus.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kulit menipis dan keriput.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terjadi penumpukan lemak tidak normal pada bagian tubuh tertentu.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain mengalami perubahan fisik, orang dengan kondisi kelainan ini juga akan merasakan gangguan kesehatan yang umumnya menyerang lansia, seperti:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengalami gangguan pendengaran.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit jantung dan pembuluh darah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Katarak yang terjadi pada kedua mata.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengalami pengeroposan tulang (osteoporosis).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengalami aterosklerosis.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Resistensi insulin.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada kasus tertentu bisa menimbulkan kanker.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h3><strong>Penyebab Sindrom Werner<\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebab utama dari sindrom werner ialah kelainan genetik karena mutasi gen WRN yang bermasalah. Gen WRN adalah penghasil protein werner yang berfungsi untuk memperbaiki serta memelihara DNA. Protein werner juga membantu proses tiruan atau replikasi DNA untuk pembelahan sel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada orang yang menderita kelainan ini, protein werner ada yang lebih pendek dan berfungsi tidak normal\u00a0 sehingga dipecah lebih cepat daripada protein werner yang normal. Akibatnya, terjadi masalah pertumbuhan serta penumpukan DNA yang rusak, sehingga menyebabkan gejala penuaan lebih cepat dan gangguan kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, sampai saat ini belum ada pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan sindrom werner. Pengobatan atau penanganan medis yang dilakukan hanya kombinasi pengobatan sesuai dengan gejala yang dialami pasien. Selain pemberian obat, pasien juga akan disarankan untuk menjalani terapi. Terapi ini bisa membantu pasien untuk meningkatkan kualitas hidupnya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seiring bertambahnya usia, organ dan bagian-bagian tubuh pun akan ikut mengalami penuaan. Faktor dari lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat ternyata juga bisa mempercepat penuaan. Namun, terdapat kondisi medis atau kelainan genetik yang gejalanya hampir sama seperti penuaan dini. Dalam dunia medis, kondisi ini biasa dikenal dengan sebutan sindrom werner. Lantas, sindrom apakah ini? &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3324,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-3325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesehatan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya - TemanMama<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sindrom werner merupakan kelainan yang membuat seseorang mengalami proses penuaan lebih cepat. Ketahui pengertian, gejala, dan penyebabnya di sini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya - TemanMama\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sindrom werner merupakan kelainan yang membuat seseorang mengalami proses penuaan lebih cepat. Ketahui pengertian, gejala, dan penyebabnya di sini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"TemanMama\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-01-11T18:12:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"N0tty\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"N0tty\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325\"},\"author\":{\"name\":\"N0tty\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c\"},\"headline\":\"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya\",\"datePublished\":\"2024-01-11T18:12:57+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325\"},\"wordCount\":440,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg\",\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325\",\"name\":\"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya - TemanMama\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg\",\"datePublished\":\"2024-01-11T18:12:57+00:00\",\"description\":\"Sindrom werner merupakan kelainan yang membuat seseorang mengalami proses penuaan lebih cepat. Ketahui pengertian, gejala, dan penyebabnya di sini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg\",\"width\":1280,\"height\":853},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/temanmama.org\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#website\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/\",\"name\":\"TemanMama\",\"description\":\"TemanMama menyajikan informasi parenting, Ibu dan Anak, kehamilan seputar hubungan keluarga serta tips bermanfaat lainnya untuk Mama.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\"},\"alternateName\":\"Teman Mama & Info Seputar Parenting\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/temanmama.org\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#organization\",\"name\":\"TemanMama\",\"alternateName\":\"Teman Mama Parenting Keluarga\",\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png\",\"contentUrl\":\"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png\",\"width\":536,\"height\":239,\"caption\":\"TemanMama\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c\",\"name\":\"N0tty\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"N0tty\"},\"url\":\"https:\/\/temanmama.org\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya - TemanMama","description":"Sindrom werner merupakan kelainan yang membuat seseorang mengalami proses penuaan lebih cepat. Ketahui pengertian, gejala, dan penyebabnya di sini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya - TemanMama","og_description":"Sindrom werner merupakan kelainan yang membuat seseorang mengalami proses penuaan lebih cepat. Ketahui pengertian, gejala, dan penyebabnya di sini!","og_url":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325","og_site_name":"TemanMama","article_published_time":"2024-01-11T18:12:57+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":853,"url":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"N0tty","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"N0tty","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325"},"author":{"name":"N0tty","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c"},"headline":"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya","datePublished":"2024-01-11T18:12:57+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325"},"wordCount":440,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg","articleSection":["Kesehatan"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325","url":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325","name":"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya - TemanMama","isPartOf":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg","datePublished":"2024-01-11T18:12:57+00:00","description":"Sindrom werner merupakan kelainan yang membuat seseorang mengalami proses penuaan lebih cepat. Ketahui pengertian, gejala, dan penyebabnya di sini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/temanmama.org\/?p=3325"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#primaryimage","url":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg","contentUrl":"https:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/WhatsApp-Image-2024-01-11-at-15.40.52.jpeg","width":1280,"height":853},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/temanmama.org\/?p=3325#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/temanmama.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sindrom Werner: Pengertian, Gejala, dan Penyebabnya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#website","url":"https:\/\/temanmama.org\/","name":"TemanMama","description":"TemanMama menyajikan informasi parenting, Ibu dan Anak, kehamilan seputar hubungan keluarga serta tips bermanfaat lainnya untuk Mama.","publisher":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization"},"alternateName":"Teman Mama & Info Seputar Parenting","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/temanmama.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#organization","name":"TemanMama","alternateName":"Teman Mama Parenting Keluarga","url":"https:\/\/temanmama.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png","contentUrl":"http:\/\/temanmama.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo.png","width":536,"height":239,"caption":"TemanMama"},"image":{"@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/64b9e3ca99c6a26fc49b719086cf664c","name":"N0tty","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/temanmama.org\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/99e6904fede8030975183a9cf70862ee7f280597b5621917dcb97037a703ffdb?s=96&d=mm&r=g","caption":"N0tty"},"url":"https:\/\/temanmama.org\/?author=3"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3325"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3326,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3325\/revisions\/3326"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3324"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/temanmama.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}